Minggu, 28 April 2013

Wajah Baru PAUD di Zaman Modern

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
(UU No 20 Th 2003, Ps. 1, Butir 14)

Melihat definisi PAUD di atas, tentulah kita sudah paham betapa pentingnya peran PAUD dalam membentuk karakter anak-anak. Pada waktu dulu, PAUD dikembangkan dengan kurikulum sederhana, semua metode pembelajaran dilakukan dengan bermain. Yang diajarkan adalah nilai-nilai agama, mengenali huruf dan angka, anak-anak diberikan keterampilan untuk membuat sesuatu yang sederhana, bernyanyi lagu-lagu anak, pendidikan moral, dan lain-lain dimana semuanya itu masih pembelajaran tingkat dasar dan bersifat membuat anak menjadi senang. Akan tetapi kini, seiring dengan perkembangan zaman PAUD hadir dengan wajah baru dalam mencerdaskan anak bangsa. Wajah baru PAUD tersebut meliputi kurikulum yang berubah, cara pengajaran, dan suasana PAUD itu sendiri.
Sekarang ini banyak sekali bermunculan PAUD-PAUD masa kini yang kelihatannya secara struktur fisik lebih menjamin dibandingkan PAUD masa dulu. PAUD masa kini hadir dengan bangunan yang bisa dibilang mewah dan dengan guru-guru yang dipanggil “miss” oleh anak-anak bukan “ibu”. Kurikulum juga sudah sangat berkembang dimana anak tidak hanya bisa mengenali huruf dan angka setelah lulus dari PAUD akan tetapi anak sudah diwajibkan untuk bisa membaca dan menghitung sederhana. Luar biasa bukan? Selain itu, dengan alasan untuk mengikuti perkembangan zaman sekaligus mempersiapkan anak dalam menghadapi zaman global, anak-anak mulai diajarkan bahasa Inggris, meliputi pengenalan huruf dan angka dalam bahasa Inggris, lagu yang dinyanyikan sebelum atau sesudah belajar, panggilan guru, dan lainnya.
Keponakan saya sudah bisa menyanyikan lagu “Happy” yang diajarkan miss-nya di TK dengan sangat lancar, pengucapannya juga sangat baik. Sebenarnya pengenalan bahasa Inggris ke anak-anak itu baik akan tetapi yang harus kita perhatikan adalah sudah lancar atau belumkah anak tersebut menggunakan bahasa Indonesia. Jika sudah, maka pengenalan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional bisa dilakukan. Jika belum, sebaiknya anak diajarkan dulu untuk berbahasa Indonesia dengan benar dan kalau menurut saya usia anak pra sekolah itu belum tepat untuk diajarkan bahasa asing apalagi kalau harus diajarkan sampai dua atau tiga bahasa asing. Takutnya, anak akan menjadi bingung harus mempelajari atau menggunakan bahasa yang mana. Sebagai contoh, keponakan saya di TK belajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang sederhana, akan tetapi di rumah neneknya mengajarin bahasa Karo. Dia tidak tahu harus menggunakan bahasa yang mana saat berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, akhirnya ketika bertemu dia memanggil saya aunty ngah (bibi tengah) kemudian kalau dia mau makan dia bilang it (eat) tetapi minum ya tetap minum sementara bahasa Karonya tidak pernah diucapkannya kecuali memanggil neneknya “nini”.
Selain pengenalan bahasa Inggris, anak-anak PAUD juga sudah diberikan tugas rumah yang harus dikerjakan lalu dikumpulkan keesokan harinya. Pemberian tugas ini tentu sudah menyalahi metode pembelajaran PAUD, yaitu pengajaran dilakukan dengan metode yang menyebangkan anak, yaitu bermain. Dengan adanya tugas, tentu anak menjadi bosan atau merasa terbebani karena harus belajar lagi di rumah dan merasa waktu bermainnya berkurang, padahal usia anak pra sekolah adalah usia dimana anak-anak sangat senang bermain. Hal ini akan menimbulkan kejenuhan anak dalam belajar pada kemudian hari.
Tak hanya itu, PAUD masa kini juga telah dijangkiti teknologi. Anak-anak usia pra sekolah yang berada di kota-kota besar seperti Jakarta telah diijinkan oleh orangtua  mereka menggunakan komputer bahkan terkadang Ipad/ tablet sebagai permainan mereka. Akibatnya, ketika belajar di PAUD pun mereka membawa Ipad/ tablet mereka tersebut lantas memamerkannya kepada teman-temannya yang belum memiliki. Alhasil, lama-kelamaan Ipad/ tablet bisa menjadi  keharusan bagi anak-anak pra sekolah dan yang lebih menakutkan lagi, anak-anak pra sekolah mulai tertarik untuk bermain dengan ipad/ tabletnya ketimbang dengan teman-temannya. Tidak hanya permainan tradisonal yang hilang, interaksi dengan teman-teman dan guru-gurunya juga tidak ada.
Menurut Anda, bagaimanakah wajah baru PAUD masa kini? Masih sesuai atau tidak dengan tujuan awal PAUD?

Posted on 22.44 by Unknown

1 comment

Testimoni: Belajar Online, Positif atau Negatifkah?

Teknologi ialah alat yang digunakan manusia untuk mensejahterakan kehidupannya dimana perkembangannya sangatlah pesat yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Teknologi pendidikan itu sendiri sebenarnya telah dikenal sejak lama, seperti misalnya penemuan bolpoin, kertas, papan tulis, kapur, dan lain-lain yang semuanya itu sangatlah mendukung proses pembelajaran. Akan tetapi teknologi pendidikan yang lebih muktahir lagi, yaitu internet baru dikembangkan sejak awal abad 21 dimana dunia persekolahan mulai menggunakan internet sebagai media pembelajaran siswanya. Para siswa dibebaskan mengakses internet untuk mendapatkan informasi-informasi terbaru tentang perkembangan pengetahuan. Hanya saja ada batasan tertentu yang harus dipatuhi oleh siswa, yaitu berupa norma dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.
Di Indonesia, hampir semua sekolah difasilitasi dengan komputer yang dapat terkoneksi ke internet dan pada beberapa sekolah tertentu, siswanya juga difasilitasi untuk mengadakan belajar online. Belajar online itu diperuntukkan untuk siswa yang tidak dapat hadir ke sekolah mengikuti kegiatan belajar-mengajar karena sesuatu hal. Kalau dilihat dari tujuannya, belajar online memiliki fungsi yang sangat positif karena memudahkan para siswa untuk mendapatkan pengetahuan meskipun tidak bertatap muka secara langsung dengan gurunya di sekolah karena sesuatu hal. Akan tetapi, penggunaan belajar online inilah yang harus terus diwaspadai. Jika tidak, akan banyak sekali siswa yang justru memanfaatkan fasilitas belajar ini dengan tidak baik atau menyimpang dari tujuan.
Saya sendiri baru merasakan belajar online saat kuliah si semester 2 ini dan waktu itu masih percobaan untuk kuliah online. Kami menggunakan media Gtalk untuk bisa saling berkomunikasi dengan teman-teman lain yang sekelas saya. Saat mencoba, saya memang merasakan kuliah online itu seperti kuliah yang sebenarnya: hadir di ruang kuliah lantas menerima materi dari dosen  lalu mengerjakan tugas. Hanya saja yang menjadi perbedaannya dalam kuliah online adalah saya berhubungan dengan komputer/ laptop bukan dengan manusia. Kalau untuk diskusi, kita bisa membuat grup sendiri yang anggotanya ditentukan oleh dosen atau bentuk sendiri lalu membahas topik yang diberikan, tidak ada beda dengan diskusi biasa.
Lalu positif atau negatifkah belajar online itu?
Menurut saya, seperti yang sudah saya katakan di atas bahwa tujuan dari diciptakannya fasilitas belajar online ini adalaha positif karena memudahkan siswa untuk menerima ilmu pengetahuan dari gurunya meskipun dia tidak dapat datang ke sekolah mungkin karena sakit atau sedang berada di luar daerah. Dengan begitu, siswa yang tidak datang ke sekolah tidak akan ketinggalan pelajaran dari teman-temannya karena ia bisa mendapatkan pelajaran itu dari fasilitas belajar online ini. Akan tetapi sebagaimana yang kita ketahui bahwa dari setiap sisi positif dari teknologi, akan ada sisi negatifnya. Karena dengan tidak datang ke sekolah siswa masih tetap bisa mendapatkan pengajaran maka bagi beberapa siswa yang cenderung senang menyendiri akan terus tidak datang ke sekolah padahal jika siswa datang ke sekolah dia bisa berinteraksi langsung dengan teman-temannya termasuk dengan guru-gurunya sehingga proses pemebelajaran pun semakin mudah dilakukan. Kemudian, dengan belajar online ini siswa menjadi malas untuk menulis dan membaca buku pelajaran. Semua tugas akan dikerjakan dengan sistem copy-paste dari internet bukan dari hasil pemikiran sendiri padahal tugas diadakan untuk mengukur sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan tersebut.
Begitulah sisi negatif dan positifnya belajar online. Kita bisa menghindari sisi negatifnya jika kita tetap berpandangan pada tujuan awal belajar online itu. Diperlukan sosialisasi tentang belajar online agar siswa tidak menyimpang dari tujuan yang diinginkan.

Posted on 22.42 by Unknown

No comments

Teori Kepribadian Alfred Adler

A.       Latar Belakang Sejarah Tokoh Adler
Alfred Adler dilahirkan pada 7 Februari 1870 di pinggiran kota Wina dan wafat pada 28 Mei 1937 di Skotlandia. Adler tumbuh dan berkembang dalam keadaan menderita rakhitis dan pneumonia. Penyakit tersebut membuatnya lemah, tidak bisa berjalan bahkan hampir meninggal. Keadaan inilah yang menjadi motivasi utama Adler untuk menjadi seorang dokter. Pada tahun 1895, Adler menerima gelar dokter dari Universitas Wina dan beberapa tahun kemudian beralih ke dunia psikiatri.
Adler adalah anak kedua dari enam bersaudara. Ia tumbuh di lingkungan yang memiliki latar belakang kehidupan yang berdeda-beda. Adler menghabiskan sebagian besar masa kecilnya dengan teman-temannya yang termasuk anak-anak Yahudi dan non-Yahudi dari kelas menengah dan bawah. Pengalaman inilah yang mungkin mempengaruhi kepeduliannya terhadap aspek sosial dari kepribadian.
Pada tahun 1902 Adler bertemu dengan Freud dan menjadi anggota dari Wina Psychoanalytic Society selama sembilan tahun ke depannya lalu menjabat sebagai Presiden pada tahun 1910. Adler menulis tentang Organ Inferiority, karangan yang menyebabkan putus hubungannya dengan Freud, teori tentang adanya inferiority karena sifat manusia yang ingin mengatasi kekurangan fisiknya, bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki kelemahan organis dan inferioritas hadir dalam diri setiap manusia. Dengan kelemahan inilah manusia melakukan kompensasi yaitu menutupi kelemahannya.
Teori Adler semakin hari semakin berbeda dengan Freud dan anggota lainnya. Menurut Freud, segalanya yang terjadi di masa lalu mempengaruhi siapa manusia itu sekarang. Sebaliknya, Adler berpendapat bahwa dorongan seseorang untuk mencapai kesempurnaan (striving for perfection) yang menentukan siapa manusia itu sekarang, dan masa lalu tidak sepenuhnya menciptakan style of life.
Akhirnya pada tahun 1911 ia meninggalkan Wina Psychoanalytic Society. Adler kemudian membentuk kelompok yang bernama “The Society for Individual Psychology” dan segera menarik perhatian seluruh dunia. Saat ini kelompok Adlerian sudah terdapat di banyak negara, di Amerika Serikat dan Perhimpunan Amerika Utara.
Pada tahun 1935, setelah mengunjungi  banyak  negara, Adler menetap di New York City, di mana ia menjadi Profesor Psikologi Medis yang sekarang dikenal dengan Medical Downstate Center, Universitas Negeri dari New York. Ia terus bepergian ke luar negeri untuk kuliah, berkonsultasi, dan memberikan demonstrasi klinis dan di salah satu perjalanan itu, ia pingsan dan meninggal dunia karena serangan jantung.
    
B. DEFINISI KEPRIBADIAN MENURUT ADLER
Alfred Adler menggambarkan manusia bukan sebagai korban dari insting dan konflik yang dikontrol oleh sifat-sifat biologis dan pengalaman masa kecil. Teori ini Ia sebut sebagai psikologi individual (Individual Psychology) karena ia memfokuskan pada keunikan dari setiap orang dan menyangkal motif-motif biologis dan tujuan yang universal seperti yang dikatakan Sigmund Freud.
Menurut Adler, manusia adalah makhluk sosial. Kepribadian kita terbentuk dari lingkungan sosial dan interaksi yang unik, bukan oleh usaha-usaha mencapai kepuasan biologis. Karena itu Adler meminimalisir peran seks dalam teorinya. Bagi Adler, yang menjadi inti dari kepribadian adalah alam sadar kita dan manusia memiliki kebebasan untuk mengatur  diri dan mengarahkan diri pada tujuan kita,bukan diatur oleh faktor-faktor dari luar yang tidak dapat kita kontrol.

C.  STRUKTUR KEPRIBADIAN
Manusia dimotivasi oleh adanya dorongan utama, yaitu mengatasi perasaan inferior dan menjadi superior. Inferioritas berarti merasa lemah dan tidak memiliki keterampilan untuk menghadapi tugas atau keadaan yang harus diselesaikan. Hal itu tidak berarti rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang umum, meskipun ada unsur membandingkan kemampuan diri dengan kemampuan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman. Misalnya manusia yang lebih lemah akan berjuang untuk menjadi lebih kuat.
Sedangkan superioritas bukan berarti lebih baik dibandingkan dengan orang lain, melainkan mencoba untuk menjadi lebih baik, semakin dekat dengan tujuan ideal seseorang. Adler meyakini bahwa motif utama setiap orang adalah untuk menjadi kuat, kompeten, berprestasi dan kreatif.

D. DINAMIKA KEPRIBADIAN
Striving for Superiority, or Perfection
Striving for superiority adalah suatu usaha terus menerus untuk menjadi lebih baik, untuk menjadi lebih dekat dengan tujuan yang ingin dia capai. Adler menggambarkan striving for superiority sebagai dasar fundamental dari kehidupan dan bukan usaha untuk menjadi lebih baik dari orang lain, atau untuk menguasai. Adler mengatakan bahwa kita berjuang menjadi superior sebagai usaha melengkapi diri kita atau membuat kita merasa utuh.
Menurut Freud, perilaku manusia ditentukan berdasarkan masa lalunya (seperti insting dan pengalaman masa kanak-kanak), sementara Adler melihat bahwa motivasi manusia adalah suatu hal yang menentukan masa depannya. Dia mengatakan bahwa hanya perjuangan menjadi superior yang dapat menjelaskan kepribadian dan tingkah laku seseorang.
Ada 2 poin tambahan tentang striving for superiority ini. Pertama, hal ini lebih banyak meningkatkan daripada menurunkan tegangan. Striving for superiority memerlukan energi dan usaha besar, maka Adler mengatakan manusia berusaha melawan stabilitas dan keadaan tenang.
Kedua, bahwa striving for superiority itu dimiliki oleh individu dan masyarakat. Kita melakukan striving for superiority tidak hanya sebagai individu namun juga sebagai anggota kelompok. Menurut Adler, individu dan masyarakat saling berhubungan dan bergantung satu sama lain.
Fictional Final Goals
Salah satu teori yang dikemukakan Adler dalam membentuk perilaku kita adalah fictional final goals (finalisme fiktif). Hal  ini dikatakan “fiksi” karna tidak mungkin dapat dilakukan di dunia nyata.
Kita hidup dalam dunia dimana ada anggapan bahwa semua orang itu sama, atau pada dasarnya semua orang itu baik. Kepercayaan ini mempengaruhi cara kita bertingkah laku kepada orang lain. Misalnya, jika kita percaya bawa dengan melakukan hal-hal baik akan membawa kita ke surga maka kita akan melakukannya. Banyak hal-hal fiksi yang terjadi dalam kehidupan kita, menurut Adler, suatu formulasi besar yang diciptakan manusia adalah konsep tentang Tuhan.
The Style of Life
Tujuan utama kita adalah superiority atau perfection (kesempurnaan), tapi cara kita untuk menuju hal tersebut berbeda-beda. Kita mengembangkan sebuah pola unik dari karakter, tingkah laku, kebiasaan, yang mana disebut Adler sebagai style of life atau gaya hidup. Bayi memiliki inferiority feelings yang memotivasi mereka untuk mengkompensasi rasa putus asa dan kebergantungan. Dalam upaya untuk melakukan kompensasi, anak-anak memperoleh berbagai macam tingkah laku. Tingkah laku ini menjadi bagian dari gaya hidup (the style of life).
Semua yang kita lakukan terbentuk dengan keunikan gaya hidup kita. Hal ini menentukan aspek kehidupan mana yang cenderung kita sukai atau tidak sukai, dan sikap mana yang kita pegang.  Gaya hidup dipelajari dari interaksi sosial yang terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan. Adler mengatakan bahwa gaya hidup terbentuk sejak umur 4 atau 5 tahun, dan setelah itu sangat sulit untuk dirubah. Gaya hidup menjadi salah satu penentu dari sikap-sikap kita ke depannya.
Contohnya, anak yang diabaikan merasa tidak mampu mengatasi tuntutan hidup, karena itu dia tumbuh dengan rasa ketidakpercayaan dan sering berseteru. Hasilnya, gaya hidupnya sering melibatkan rasa dendam, membenci kesuksesan orang lain, dan mengambil apapun yang dia rasa adalah haknya.
Adler menggambarkan beberapa masalah yang umum dan membaginya dalam 3 kelompok:
1.      Masalah yang melibatkan perilaku kita terhadap orang lain
2.      Masalah dalam pekerjaan
3.      Masalah tentang percintaan
Kemudian, Ia mengemukakan 4 gaya hidup yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah itu:
1.      Dominant type
2.      Getting type
3.      Avoiding type
4.       Socially useful type
Tipe pertama adalah sikap memerintah dengan kesadaran sosial yang rendah. Orang seperti ini berperilaku tanpa memikirkan orang lain. Orang yang paling ekstrim dari jenis ini akan menyerang orang lain secara langsung dan menjadi sadis dan ganas. Sementara orang yang tidak terlalu ekstrim  akan menjadi alkoholik, kecanduan obat, dan bunuh diri.
Getting type (tipe paling umum menurut Adler) adalah yang mana manusia mengharapkan apa saja dari orang lain dan sangat bergantung dengan mereka.
Avoiding type membuat tidak ada upaya dalam menghadapi masalah kehidupan. Dengan menghindari semua kesulitan, menghindari setiap kemungkinan terjadinya kegagalan.
Social useful type dimana kita berdampingan dengan orang lain dan berperilaku sesuai dengan kebutuhan mereka. Orang-orang tersebut mengatasi permasalahan hidup dengan mengembangkan kerangka sosial dengan baik.
Social Interest
Adler percaya bahwa bergaul dengan orang lain merupakan tugas pertama kita dalam menghadapi hidup. Adler mengkonsepkan minat sosial (social interest) sebagai potensial individu yang dibawa sejak lahir untuk bekerja sama dengan orang lain  mencapai tujuan pribadi maupun sosial.
Menurut Adler, meskipun kita lebih kuat dipengaruhi oleh sosial daripada biologis, potensi dari minat sosial ini merupakan pembawaan dari lahir. Namun, tingkat untuk potensi minat sosial bergantung pada awal pengalaman sosial kita. Adler menyatakan bahwa peran ibu sangat penting sebagai orang pertama dalam berhubungan dengan bayi. Melalui perilaku ibu kepada si anak, ibu dapat membantu perkembangan minat sosial anak.
Creative Self
Adler berpendapat bahwa setiap orang memiliki kontrol terhadap hidupnya sendiri dan bahwa mereka menciptakan style of life mereka sendiri. Kekuatan kreativitas itulah yang membuat setiap individu menciptakan diri, karakter, serta kepribadian mereka.

E. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Inferiority Feelings
Adler percaya bahwa inferiority feelings selalu ada dalam diri manusia sebagai motivasi. Karena kondisi ini umum adanya pada diri kita, bukan sebagai suatu kelemahan atau tidak normal. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia mempunyai kelemahan organis. Menurut Adler, kelemahan inilah yang mendorong manusia untuk mengadakan kompensasi, yaitu suatu usaha manusia untuk menutupi kelemahannya. Mekanisme kompensasi inilah yang mendasari  tingkah laku manusia.
Prosesnya bermulai sejak masa bayi. Bayi sangat kecil dan sangat bergantung dengan orang dewasa disekitarnya. Mereka menyadari akan kekuatan dari orang tua mereka sehingga mereka mengembangkan inferiority feelings mereka kepada orang-orang dewasa disekitarnya. Inferiority feelings ini mutlak adanya dan diperlukan karena ini menuntut bayi bertahan hidup dan bertumbuh.
Birth Order
Adler menyatakan bahwa urutan kelahiran adalah pengaruh sosial yang utama ketika masa kanak-kanak. Meskipun memiliki hubungan saudara, berasal dari orang tua yang sama dan tinggal di rumah yang sama, mereka tidak memiliki lingkungan sosial yang sama. Adler menuliskan empat situasi yaitu anak pertama (the first-born child), anak kedua (the  second-born child), anak paling muda (the youngest child) dan anak tunggal (the only child).
Anak Pertama (The First-Born Child)
Anak pertama biasanya mendapat perhatian yang penuh dari orang tua mereka. Hasilnya, anak pertama memiliki kebahagiaan, dan hidup yang tentram- hingga anak kedua lahir. Adler yakin bahwa semua anak pertama merasa terkejut akan pergeseran status mereka dalam keluarga, tetapi bagi mereka yang manja berlebihan akan merasakan kehilangan yang lebih besar. Karena telah terbiasa memiliki kekuasaan, anak pertama cenderung membawa sifat itu sepanjang  hidupnya.
Ada keuntungan-keuntungan menjadi anak pertama. Pada usia muda, anak pertama sering diharapkan oleh orang tua untuk membantu menjaga saudara kandungnya lebih muda. Pengalaman ini sering membuat anak pertama lebih dewasa secara intelektual dibandingkan saudara lainnya.
Adler yakin bahwa anak pertama memiliki ketertarikan pada pemeliharaan urutan dan kekuasaan. Adler menemukan bahwa mereka menjadi organisator yang sangat bagus, teliti dan cermat terhadap detail dan penguasa serta bersikap konservatif. Anak pertama dapat tumbuh dengan perasaan tidak aman dan bermusuhan terhadap yang lain. Adler menemukan bahwa penjahat, kriminal dan neurotik lebih sering adalah anak pertama.
Anak Kedua (The  Second-Born Child)
Anak kedua, yang membuat pergolakan pada hidup anak pertama, tidak pernah memiliki pengalaman posisi kekuasaan yang dialami oleh anak pertama sehingga mereka tidak mengalami shock yang berat seperti anak pertama bila ada bayi lainnya. Bayi kedua tidak membawa sesuatu yang baru seperti anak pertama dan orang tua mungkin lebih rileks dalam menghadapi anak kedua.
Pada awalnya, anak kedua yang menentukan model pada saudara kandung yang lebih tua. Anak kedua selalu mencontoh perilaku dari anak yang lebih tua sebagai model. Persaingan dengan anak pertama dapat memotivasi anak kedua, yang berusaha untuk mengejar dan mengungguli saudara kandungnya yang lebih tua. Mereka optimis tentang masa depan dan suka untuk bersaing dan ambisius, seperti Adler. Namun, keterampilan yang baik dari anak pertama dapat menenggelamkan sifat kompetitif anak kedua sebab ia merasa tidak akan pernah bisa menang dari saudaranya yang lebih tua.
Anak Paling Muda (The Youngest Child)
Anak paling muda atau anak terakhir tidak pernah mengalami shock dethronement dari anak lain dan sering dijadikan kesayangan di dalam keluarga, terutama jika hubungan dengan saudara kandung yang lainnya lebih tua dari beberapa tahun. Didorong melalui kebutuhan yang melebihi dari saudara kandung yang lebih tua, anak terakhir sering berkembang sungguh cepat. Anak terakhir sering berprestasi tinggi di dalam pekerjaan apapun yang mereka kerjakan seperti orang dewasa.
Bagaimanapun anak yang paling muda biasanya manja dan mereka tidak membutuhkan pembelajaran untuk melakukan apapun sendiri. Tidak biasa dengan kondisi untuk berusaha dan berjuang, mereka akan sulit untuk menyelesaikan masalah pada masa dewasa.
Anak Tunggal (The Only Child)
Anak tunggal tidak pernah kehilangan posisi keunggulan dan kekuatan yang mereka dapatkan di dalam keluarga, mereka tetap menjadi fokus dan pusat perhatian. Anak tunggal sering tumbuh dewasa dengan cepat dan meraih kedewasaan perilaku sebab mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan orang dewasa daripada saudara kandung mereka.
Anak tunggal akan merasa kesulitan ketika mereka tidak menjadi pusat perhatian. Anak tunggal telah belajar, untuk selalu menjadi yang pertama. Jika kemampuan anak tidak membawa cukup pengakuan dan perhatian, dia mungkin merasa sangat kecewa.
Dengan gagasan tentang urutan kelahiran, Adler tidak menaruh aturan tetap untuk perkembangan pada masa kanak-kanak. Anak tidak akan secara otomatis memperoleh karakter semata-mata didasarkan pada posisinya di dalam keluarga. Adler memberi kemungkinan dari perkembangan gaya hidup tertentu yang pasti akan berkembang karena fungsi dari urutan kelahiran yang digabungkan dengan interaksi sosial seseorang pada awal hidupnya. 

F. PSIKOPATOLOGI
Beberapa keadaan seperti dimanja dan ditolak, dapat membuat seseorang mengembangkan inferiority complex atau superiority complex. Dua kompleks tersebut berhubungan erat.
Inferiority complex atau perasaan rendah diri adalah kondisi yang berkembang disaat seseorang tidak dapat mengkompensasi perasaan inferiornya. Orang-orang dengan inferiority complex memiliki pendapat yang buruk tentang diri mereka sendiri,merasa tidak berdaya dan tidak mampu untuk menghadapi tuntutan hidup mereka. Inferiority complex dapat muncul dari 3 sumber pada masa kecil: organic inferiority (inferior organis),spoiling (dimanjakan),dan neglect (diabaikan).
Adler menyimpulkan bahwa kepribadian terbentuk dari usaha seseorang untuk mengkompensasi kelemahan mereka. Usaha-usaha ini dapat menghasilkan suatu pencapaian yang baik, namun bila usaha ini gagal, dapat mengakibatkan inferiority complex.
Ketika seorang anak yang manja mengalami rintangan dalam mencapai kepuasannya, ia  merasa bahwa ia memiliki kekurangan yang menghalanginya, sehingga timbul inferiority complex. Hal yang sama juga terjadi pada anak yang diabaikan, tidak diinginkan dan ditolak  dimana masa kecil mereka kurang rasa kasih sayang dan tidak dipedulikan. Sebagai hasilnya, berkembang rasa marah, tidak berharga dan sulit mempercayai orang lain.
Sedangkan superiority complex merupakan kondisi yang berkembang ketika seseorang mengkompensasikan inferioritas secara berlebihan. Ini termasuk opini seseorang yang berlebihan mengenai kemampuannya sehingga merasa terlalu puas dan superior serta tidak perlu berusaha mencapai sesuatu.

G. PENELITIAN
Assessment and Research in Adler’s Theory
Adler mengobservasi kepribadian pasiennya baik cara mereka berjalan, duduk, bersalaman, bahkan pemilihan kursi untuk diduduki. Tidak seperti Freud, Adler tidak memperlakukan pasiennya dengan formal dan sesi terapi Adler lebih seperti percakapan antar teman. Metode utama Adler dalam assessment yaitu urutan kelahiran,ingatan awal dan analisis mimpi.
Adler melakukan beberapa penelitian terkait mimpi (dreams), ingatan awal(early recollections), minat bersosialisasi (social interest), urutan kelahiran (birth order) dan diabaikan pada masa kanak-kanak (neglect in childhood).
1.Mimpi
Adler menginterpretasikannya mimpi secara berbeda dari Freud. Freud berpendapat bahwa mimpi mengindikasikan konflik terselubung di masa lalu, sedangkan Adler percaya bahwa mimpi berorientasi pada masalah yang sedang dihadapi dan ingin diselesaikan seseorang. Pada penelitiannya, Adler menemukan bahwa orang yang dibangunkan saat tahap tidur REM memimpikan hal  yang paling mengkhawatirkan mereka saat itu.
2.Ingatan Awal
Merupakan teknik pengkajian kepribadian dimana ingatan awal,baik yang nyata atau fantasi, menyatakan keinginan utama dalam hidup. Menurut Adler, kepribadian seseorang terbentuk pada usia 4 sampai 5 tahun pertama dan ingatan awal pada masa itu mengindikasikan gaya hidup serta membentuk karakter seseorang sampai dewasa.
3.Pengukuran Minat Bersosialisasi
Adler tidak setuju menggunakan alat test untuk mengukur kepribadian seseorang. Menurut Adler, alat test hanya akan merekayasa kepribadian sesungguhnya serta membingungkan dan bahwa para terapis seharusnya meningkatkan intuisi mereka. Namun, hasil test SIS (Social Interest Scale) menunjukkan bahwa orang-orang dengan minat sosial tinggi mengalami lebih sedikit stress, depresi, kecemasan dan kekerasan dibandingkan dengan yang rendah minat sosialnya.
4.Urutan Kelahiran
Menurut Adler,urutan kelahiran menentukan kepribadian seseorang. Anak pertama bersifat penguasa yang mana dicapai melalui prestasi kerja mereka. Anak kedua/tengah, menurut Adler,lebih kompetitif dan ambisius tetapi sebuah riset membuktikan bahwa anak kedua memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah (Kidwell,1982). Anak terakhir diprediksi sebagai anak yang manja dan berpeluang bermasalah dalam menempatkan diri sebagai orang dewasa. Sedangkan anak tunggal dikatakan paling ingin menjadi pusat perhatian serta lebih egois dibandingkan anak-anak yang memiliki saudara.
5.Diabaikan pada Masa Kanak-kanak
Adler menyatakan bahwa anak-anak yang diabaikan atau ditolak oleh orang tuanya cenderung merasa dirinya tidak berharga sehingga mempengaruhi kepribadian mereka. Suatu penelitian dengan 714 orang dewasa yang depresi mengemukakan bahwa mereka merasa orang tua mereka pernah melakukan kekerasan dan memberi penolakan terhadap mereka.

H. ISU PENTING DALAM PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
a. Free Will or Determinism
Setiap orang mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dengan kata lain kita yang mengatur dan mengubah hidup kita sendiri. Sehingga, free will lebih berperan sebab menurut Adler , manusia tidak didominasi oleh faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol mereka.
b. Nature or Nurture
Adler berpendapat bahwa kepribadian seseorang saling mempengaruhi baik nature maupun nurture,dimana kepribadian seseorang itu dapat dibentuk baik dari genetik maupun dari lingkungan sekitarnya.
c. Past or Present
Keduanya saling mempengaruhi pembentukan kepribadian baik past maupun present, dimana kepribadian dibentuk melalui  pengalaman masa kanak- kanak sampai dewasa.
d. Uniqueness or Universality
Tidak seperti Freud yang melihat manusia sebagai makhluk yang sama, Adler berpandangan bahwa setiap manusia memiliki kebebasan untuk membentuk gaya-gaya sosial yang mempengaruhi kita dan mengkonstruksi gaya hidup yang unik.
e. Equilibrium or Growth
Menurut Adler,manusia harus strive for perfection,sebab ia meyakini bahwa manusia harus termotivasi agar tumbuh dan berkembang.
f. Optimism or Pessimism
Adler berpandangan optimis akan adanya progress sosial serta melihat sisi positif dari manusia.

I. KOMENTAR KELOMPOK
Kontribusi Adler dalam dunia psikologi sangatlah besar karena pandangannya mencakup masyarakat luas. Pandangannya tentang psikologi individual banyak mempengaruhi tokoh-tokoh psikologi dunia. Adler mengatakan bahwa manusia akan berusaha untuk menutupi kekurangannya agar tidak kelihatan lemah. Ini berasal dari pengalaman masa kecil Adler yang kemudian mempengaruhi keadaannya sehingga menjadi lebih berusaha agar dia tidak terlihat lemah, dibandingkan dengan abangnya. Dari keadaannya ini  lah Adler mengeluarkan teorinya.
Pada akhirnya teori Adler tersebut banyak diterapkan dalam dunia psikologi. Menurut kami teori Adler  masuk akal dan juga mudah dipahami karena berdasarkan pengalaman masa kecil Adler. Teori tersebut dapat dilihat secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
Schultz and Schultz. 1993. Theories of Personality. California: Brooks/ Cole Publishing Company.
Pervin,Cervone and  John. 2005 9th edition. Personality Theory and Research. America: John Wiley and Sons.
Hall.,Lindzay,Loehlin and Manosevitz. 1985. Introduction to Theories of Personality. NewYork: Jhon Wiley Sons

Posted on 21.58 by Unknown

4 comments